Minggu, 28 Juni 2015

Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Dalam budi daya lele, pakan yang diberikan harus sesuai dengan skala usaha pada kolam. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 3-4% berat biomas/hari. Bila susah menghitung jumlah pakan yang diberikan, pemberian pakan ikan lele juga bisa dilakukan secara ad libitum, yaitu pemberiannya dilakukan secara bertahap dalam jumlah banyak dan baru dihentikan setelah 25% dari ikan yang ada telah meninggalkan tempat pemberian pakan. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar ikan sudah mulai kenyang.

Patokan pemberian pakan lele bisa didasarkan pada konversi pakan. Misalnya, konversi pakan pada pembesaran lele sangkuriang adalah 0,8-1. Artinya, setiap 0,8-1 kg pakan yang dihabiskan akan menambah bobot ikan sebanyak 1 kg. Jadi jika jumlah tebar lele sebanyak 10.000 ekor dengan target produksi ikan konsumsi ukuran 9-10 ekor/kg maka pakan yang harus disediakan sekitar 1.000 kg.

Setiap pergantian jenis atau ukuran pakan yang berbeda sebaiknya dilakukan secara bertahap. Caranya adalah pakan lama dengan pakan pengganti dicampur. Tujuannya adalah agar ikan dapat beradaptasi dengan jenis atau ukuran pakan yang berbeda. Ukuran pakan ditetapkan dengan mempertimbangkan ukuran bukaan mulut ikan. Semakin besar ukuran tubuh ikan dan bukaan mulutnya, semakin besar pula ukuran pakannya.

Jumlah Pemberian Pakan Dalam Kegiatan Pembesaran Setiap Periode Berdasarkan Sekala Usaha
Skala Usaha (Kg) Jumlah Pakan Tambahan (Kg) Skala Usaha (Kg) Jumlah Pakan Tambahan (Kg)
100 100 2000 2000
200 200 5000 5000
500 500 10000 10000
1000 100 20000 20000

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui

Penebaran benih lele merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam kegiatan awal pemeliharaan lele di kolam. Tidak sedikit para pelaku budi daya lele yang melakukan kesalahan dalam menebar benih lele, baik cara maupun waktunya.

Waktu yang tepat untuk menebar benih lele adalah pagi hari (pukul 08.00-09.00) atau sore hari (pukul 15.30-16.30). Diperkirakan pada waktu-waktu tersebut suhu air tidak terlalu panas (stabil). Benih yang sudah ditebar tidak langsung diberi pakan. Sebaiknya puasakan benih selama sehari. Setelah itu baru diberi pakan.

Bagi yang baru menekuni budi daya lele, disarankan untuk menebar benih ukuran minimal 9-10 cm. Benih ukuran tersebut kondisinya relatif stabil dibandingkan dengan benih yang ukurannya masih kecil.

Padat tebar adalah jumlah benih yang ditebar per luas atau volume kolam. Berdasarkan pengalaman beberapa pelaku budi daya lele, padat tebar yang diterapkannya 200-400 ekor/m2. Artinya, setiap luas kolam 1 m2 dengan kedalaman 80-100 cm dapat dipelihara 200-400 ekor benih.

Ukuran benih lele ideal yang akan ditebar sebaiknya seragam. Tujuannya agar lele tidak saling menganggu dan pertumbuhannya seragam. Sesuai dengan karakternya, lele adalah binatang kanibal. Jika kekurangan pakan, akan memangsa sesamanya, terutama lele berukuran kecil. Benih lele yang berukuran kecil juga akan kalah bersaing dalam mendapatkan makanan.

Benih yang baru tiba di kolam sebaiknya jangan langsung ditebar, akan tetapi diadaptasikan terlebih dahulu (aklimatisasi) agar benih tidak stress akibat perbedaan suhu antara air dalam wadah pengangkutan dengan air di kolam barunya. Benih yang stress berpeluang besar menjadi lemah, terkena penyakit, bahkan mati.

Tahap aklimatisasi benih, yaitu sebagai berikut:

  • Kantong plastik (wadah pengangkutan) yang berisi benih didiamkan di atas permukaan air kolam sekitar 15-30 menit.
  • Karet kantong plastik di buka setelah kantong plastik didiamkan.
  • Sambil memercikkan air kolam ke dalam kantong ikan, secara perlahan kantong dimiringkan sehingga airnya bercampur dengan air kolam dan ikan pun keluar secara perlahan.


Setelah benih di tebar, sebaiknya diberi pupuk higienis (PH) denga dosis ½ nya atau 1 kg dedak untuk 20 M3 air. PH sangat berperan dalam mengobati luka pada tubuh ikan akibat sentuhan alat saat panen dan penanganan lainnya.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Cara Mudah Pembenihan Lele

Cara pembenihan lele yang diuraikan dalam dalam pembahasan ini ialah cara pembenihan lele secara intensif. Dalam teknik ini, induk yang akan dipijahkan harus dirangsang dengan penyuntikan kelenjar hipofisa dan pembuahan dilakukan dalam wadah atau baskom. Namun, pembenihan sistem intensif ini dilakukan di luar ruangan. Selain itu, kolam tidak dipasangi pompa air atau aerator. Penekanan dalam sistem ini adalah pemberian pakan yang lebih banyak.

Dengan pembenihan sistem intensif, peternak tetap dapat memperkirakan hasil produksi yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Kekurangan dari sistem ini adalah ukuran benih yang dihasilkan. Dengan waktu pemeliharaan yang sama, ukuran benih tetapi lebih kecil dibandingkan dengan pemeliharaan lele sistem superintensif.

Kolam Indukan

Pada dasarnya tidak ada ukuran yang baku untuk kolam tempat indukan. Biasanya hanya disesuaikan dengan luas lokasi yang ada. Namun, untuk memudahkan pengelolaan dan efisiensi bisa digunakan kolam berukuran 15-20 m2 dengan tinggi 1 meter. Kolam seluas ini mampu menampung induk sebanyak 30-35 ekor. Indukan jantan dan betina dipelihara dalam kolam yang terpisah.

Kolam indukan harus memiliki lubang pemasukan dan pengeluaran air. Kedua lubang tersebut harus diberi saringan agar induk-induk lele tidak keluar. Ketinggian air di dalam kolam 60-70 cm dengan debit air mengalir 20-25 liter/menit. Air yang mengalir dalam kolam harus air bersih yang tidak tercemar limbah.

Selama pemeliharaan, induk harus diberikan pakan yang penuh gizi agar diperoleh induk yang memadai dan siap untuk dipijahkan. Jenis pakan yang bisa diberikan adalah pakan buatan berupa pelet dengan kandungan protein minimun 30%. Pakan tersebt diberikan dengan dosis 3-5% dari total bobot induk dalam kolam. Pengukuran berat bisa dengan menimbang 10 sampling lele kemudian dirata-rata beratnya. Pemberian dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, sore dan malam hari.

Pemilihan Induk Siap Pijah

Pada saat akan dilakukan pemijahan, pilih induk yang sudah siap dipijahkan, yakni yang sudah matang gonad dan minimal sudah berumur 12 bulan. Ciri-ciri induk yang sudah matang gonad sama seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Penyuntikan Hipofisa dan HCG

Kelenjar hipofisa bisa diambil dari ikan donor, lele atau ikan mas. Sementara itu, HCG atau Ovaprim sudah banyak dijual di toko alat perikanan dan apotek. Adapun cara penyuntikan Ovaprim adalah sebagai berikut:

  • Siapkan alat suntik dan hormon ovaprim untuk disuntikkan. Gunakan injeksi spuit yang sudah dibersihkan dengan air panas atau gunakan alat injeksi yang baru.
  • Timbang induk ikan lele (jantan dan betina) dan tentukan dosis ovaprim. Induk yang beratnya ± 1 kg, dosis hormon ovaprim 0,3-0,5 ml. Bila beratnya 0,5 kg, maka dosis yang diperlukan setengahnya, yakni 0,15–0, 25 ml (sesuai petunjuk pada wadah hormon tersebut).
  • Sedot dengan alat injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml. Usahakan posisi botol dan injeksi spuit tegak lurus, botol berada di atas. Setelah itu, sedot lagi dengan injeksi spuit yang sama akuades sebanyak 0,5 ml juga untuk mengencerkannya.
Proses Stripping dan Pembuahan

Stripping dilakukan setelah 8 jam dari penyuntikan. Bagian perut induk betina diurut dengan hati-hati hingga telur keluar dari lubang kelaminnya. Tapi sebelum melakukan pengurutan, terlebih dahulu siapkan bak penetasan telur, bersihkan terlebih dahulu bak-bak dengan permangkanat. Telur-telur yang terbuahi terlihat kuning transparan dan akan menetas setelah 34 jam sampai dengan 48 jam dikeluarkan oleh induk. Anak ikan yang keluar dari telur masih sangat kecil dan lemah. Badan transparan dan kalau dilihat dengan mikroskop akan terlihat masih mengandung kuning telur. Telur-telur yang tidak terbuahi berwarna kuning susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan

Dalam proses pembenihan, sebaiknya mengetahui bagaimana indukan yang siap untuk pemijahan. Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan.

Tingkat kematangan gonad

Gonad pada vertebrata adalah organ-organ dalam dua tunas, sebagai tambahan pada reproduksi utama gamet jantan dan betina. Gonad dapat berfungsi untuk mengontrol karakterisrik seks sekunder. Struktur dan bentuk biasanya tidak terkonsep pada awal produksi sel, tetapi dengan fasilitas fertilisasi gamet jantan dan betina. Karakteristik seks sekunder mencakup kebanyakan struktur ekstuagonadal dan kebiasaan pada setiap seks turunan.

Induk jantan

Ciri-ciri induk jantan yang matang gonad adalah sebagai berikut.

  • Proporsi kepala jantan lebih kecil dibanding dengan betina.
  • Warna kulit dada jantan lebih kusam dibanding betina.
  • Kelamin jantan menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dengan warna kemerahan.
  • Gerakan induk jantan lebih lincah dibandingkan ikan lele betina.
  • Kulit jantan lebih halus dibandingkan betina dan muncul bintik-bintik kecil di sekitar sirip dorsal.
Induk betina

Sementara ciri-ciri induk betina yang masak telur adalah sebagai berikut.

  • Warna terang.
  • Perut membulat.
  • Badan relatif panjang.
  • Susunan sisiknya teratur.
  • Umur 3−10 tahun. Hasil yang baik berumur 5−10 tahun.


Tanda-tanda induk betina yang sudah saatnya memijah adalah bagian perut di belakang sirip dada kelihatan menggembung jelas sekali dan sisik kelihatan agak terbuka.

Anatomi sistem reproduksi jantan

Struktur testes terdiri dari rongga-rongga yang tidak teratur dan banyak sekali, terdiri atas tubula longitudinalis. Di dalam tubuh terdapat cyste seminiferis. Di dalam cyste-cyste ini terdapat sel penghasil sperma. Sel-sel penghasil sperma ini dikelilingi oleh sel-sel sertoli yang berfungsi nutritif. Di luar tubulus terdapat sel-sel interstitial yang berfungsi sebagai endokrin.

Sebelum sampai pada lubang pelepasan (urogenital pore), spermatozon yang berasal dari testes terlebih dahulu melalui vasa efferentia, epididymis, vasa defferentia, seminal vesikel, urogenital sinus, dan urogenital papilla pada (handrichthyes). Pada sisi seminal vesikel terdapat kantong sperma.

Anatomi sistem reproduksi betina

Ovarium ikan berbentuk longitudinal seperti agar-agar jernih dan berbintik-bintik berisi sel telur atau ova. Biasanya jumlahnya sepasang. Dari ovarium sel telur keluar melalui saluran yang disebut oviduct.

Faktor yang memengaruhi pembentukan gonad eksternal dan internal

Beberapa faktor eksternal yang berperan penting bagi keberhasilan proses reproduksi adalah sebagai berikut.

  • Suhu berpengaruh terhadap waktu pemijahan, pematangan gonad, dan keberhasilan pemijahan.
  • Jika substrat yang sesuai belum ditemukan maka ovulasi tidak akan terjadi.
  • Pakan induk yang kekurangan asam lemak esensial akan menghasilkan laju pematangan gonad yang rendah.
  • Pada beberapa spesies ikan ovulasi akan terhambat jika kepadatan ikan pada suatu perairan.


Beberapa faktor internal yang memengaruhi pemijahan adalah sebagai berikut.
  • Pendorong dan penghambat hormon gonadotropin pra ovulasi dan respons ovarium terhadap GTH (Gonadotropin Hormon).
  • Ketika ikan matang secara seksual, produk seks sudah masak dan proses reproduksi akan terjadi.
Pematangan di kolam tanah

Cara pematangan di kolam tanah adalah sebagai berikut.

  • Siapkan kolam ukuran 50 m2.
  • Keringkan selama 2−4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam.
  • Isi air setinggi 50−70 cm dan alirkan secara kontinu.
  • Masukan 300 ekor induk ukuran 0,7−1,0 kg.
  • Beri pakan tambahan berupa pelet khusus lele dumbo sebanyak 3% setiap hari.
  • Induk jantan dan betina dipelihara terpisah.


Pematangan di bak

Cara pematangan di kolam bak adalah sebagai berikut.

  • Siapkan bak tembok ukuran panjang 8 m, lebar 4 m dan tinggi 1m.
  • Keringkan selama 2−4 hari.
  • Isi air setinggi 80−100 cm dan alirkan secara kontinu.
  • Masukan 100 ekor induk.
  • Beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3% /hari.
  • Induk jantan dan betina dipelihara terpisah.


Mengetahui kematangan gonad indukan dan bagaimana cara mematangkan gonad agar siap untuk pemijahan adalah penting. Sebab, jika indukan ditebar dan kematangan gonadnya rendah, maka indukan tidak akan menghasilkan telur.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Manajemen Indukan Lele

Kelangkaan jumlah indukan merupakan kendala utama dalam penyediaan indukan yang siap dipijahkan. Untuk menyikapinya, perlu dilakukan pengaturan penyediaan indukan atau manajemen indukan. Dalam pelaksanaanya, digunakan beberapa buah kolam yang nantinya akan diisi dengan calon-calon induk dengan berbagai umur, mulai dari umur empat bulan hingga induk yang siap dipijahkan atau umur dua tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan berikut:
Kolam 4 Calon induk hasil seleksi umur 1,5 tahun
Kolam 5 Induk siap pijah umur 2 tahun
Kolam 6 Induk yang telah dipijahkan
Kolam 3 Calon induk hasil seleksi umur 13 bulan
Kolam 2 Calon induk hasil seleksi umur 9 bulan
Kolam 1 Calon induk hasil seleksi umur 4 bulan

Keterangan:
  • Calon induk berumur 4 bulan dipelihara di kolam 1 sampai berumur 9 bulan. Selama waktu pemeliharaan dilakukan seleksi, calon mana saja yang akan dipindahkan ke kolam ke-2. Begitu seterusnya sampai diperoleh indukan seleksi yang siap dipijahkan dalam kolam ke-5.
  • Yang terpenting jangan ada kolam kosong. Jika kolam sampai kosong harus segera diisi dengan calon induk yang umurnya disesuaikan dengan jenis kolam. Dengan demikian nantinya induk akan selalu tersedia dan proses pembenihan akan berjalan lancar.
  • Proses ini dilakukan baik untuk penyediaan induk betina maupun jantan.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele

Indukan merupakan faktor penting yang harus ada dalam pengembangan lele. Penentuan indukan harus dilakukan dengan cermat agar diperoleh benih yang baik. Indukan-indukan ini bisa diperoleh dari unit-unit penghasil benih yang biasanya dikelola oleh pemerintah melalui Dinas Perikanan. Indukan juga bisa diperoleh dari pembudidaya yang sudah mendapatkan lisensi dari dinas terkait seperti Unit Pembenihan Rakyat.

Cara yang paling mudah untuk mengetahui apakah indukan baik atau tidak adalah dengan melihat banyaknya telur yang dihasilkan oleh indukan. Indukan yang baik minimal mengeluarkan telur sebanyak 10% dari berat badan totalnya saat evolusi. Jumlah telur dari setiap 100 gram berat telur yang keluar saat evolusi adalah 80.000-12.000 butir. Daya tetas telur juga menjadi indikator apakah indukan tersebut cocok atau tidak untuk dijadikan idukan. Daya tetas telur yang optimum adalah 50-60%.

Untuk mendapatkan indukan yang berkualitas perlu dilakukan seleksi calon indukan atau sering disebut seleksi populasi. Dalam satu kali penentuan calon indukan dilakukan seleksi berulang-ulang sehingga didapatkan induk yang benar-benar prima. Dalam proses seleksi populasi ini, dalam satu keturunan hanya boleh diambil satu indukan betina, sedangkan indukan jantan harus diambil dari keturunan yang lain.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah indukan yang dihasilkan dari seleksi populasi maksimal hanya dapat dipakai untuk lima kali pemijahan, karena keturunan yang kelima sudah mengalami penurunan kualitas.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele

Dalam usaha budi daya lele, hal yang perlu diperhatikan adalah mengenal tipe atau jenis-jenis kolam untuk budi daya lele. Meskipun ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang sanggup hidup dalam kepadatan tinggi. Ikan ini memiliki tingkat konversi pakan menjadi bobot tubuh yang baik. Dengan sifat seperti ini, budi daya ikan lele akan sangat menguntungkan bila dilakukan secara intensif.

Ada berbagai macam tipe kolam yang bisa digunakan untuk budi daya lele. Setiap tipe kolam memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing bila. Untuk memutuskan kolam apa yang cocok, harap pertimbangkan kondisi lingkungan, ketersediaan tenaga kerja dan sumber dana ada.

Tipe atau jenis kolam yang digunakan dalam budidaya ikan lele adalah kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring apung dan keramba. Namun dalam artikel ini kita akan membahas kolam tanah, mengingat jenis kolam ini paling banyak digunakan oleh para peternak ikan. Sebagai pengetahuan tambahan, silahkan baca cara membuat kolam ikan. Tahapan yang harus dilakukan dalam menyiapkan kolam tanah adalah sebagai berikut:

  • Pengeringan dan pengolahan tanah.
    Sebelum benih ikan lele ditebarkan, kolam harus dikeringkan telebih dahulu. Lama pegeringan berkisar 3-7 hari atau bergantung pada teriknya sinar matahari. Sebagai patokan, apabila permukaan tanah sudah retak-retak, kolam bisa dianggap sudah cukup kering. Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus keberadaan mikroorganisme jahat yang menyebabkan bibit penyakit. Mikroorganisme tersebut bisa bekembang dari periode budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, sebagian besar mikroorganisme patogen akan mati.
    Setelah dikeringkan, permukaan tanah dibajak atau dibalik dengan cangkul. Pembajakan tanah diperlukan untuk memperbaiki kegemburan tanah dan membuang gas beracun yang tertimbun di dalam tanah. Bersamaan dengan proses pembajakan, angkat lapisan lumpur hitam yang terdapat di dasar kolam. Lumpur tersebut biasanya berbau busuk karena menyimpan gas-gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas-gas itu terbentuk dari tumpukan sisa pakan yang tidak dimakan ikan.
  • Pengapuran dan pemupukan.
    Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan keasaman kolam dan membantu memberantas mikroorganisme patogen. Jenis kapur yang digunakan adalah dolomit atau kapur tohor.
    Pengapuran dilakukan dengan cara ditebar secara merata di permukaan dasar kolam. Setelah ditebari kapur, balik tanah agar kapur meresap ke bagian dalam. Dosis yang diperlukan untuk pengapuran adalah 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada derajat keasaman tanah. Semakin asam tanah semakin banyak kapur yang dibutuhkan.
    Langkah selanjutnya adalah pemupukan. Gunakan paduan pupuk organik ditambah urea dan TSP. Jenis pupuk organik yang dianjurkan adalah pupuk kandang atau pupuk kompos. Dosisnya sebanyak 250-500 gram per meter persegi. Sedangkan pupuk kimianya adalah urea dan TSP masing-masing 15 gram dan 10 gram per meter persegi. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menyediakan nutrisi bagi biota air seperti fitoplankton dan cacing. Biota tersebut berguna untuk makanan alami ikan lele.
  • Pengaturan air kolam.
    Ketinggian air yang ideal untuk budidaya ikan lele adalah 100-120 cm. Pengisian kolam dilakukan secara bertahap. Setelah kolam dipupuk, isi dengan air sampai batas 30-40 cm. Biarkan kolam tersinari matahari selama satu minggu.
    Dengan kedalaman seperti itu, sinar matahari masih bisa tembus hingga dasar kolam dan memungkinkan biota dasar kolam seperti fitoplankton tumbuh dengan baik. Air kolam yang sudah ditumbuhi fitoplankton berwarna kehijauan.
    Setelah satu minggu, benih ikan lele siap ditebar. Selanjutnya, air kolam ditambah secara berkala sesuai dengan pertumbuhan ikan lele sampai pada ketinggian ideal.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik