Tampilkan postingan dengan label bibit ikan lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bibit ikan lele. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2015

Meningkatkan Produksi Lele Sehat Secara Organik


Permintaan lele tidak pernah surut, bahkan cenderung semakin meningkat. Berdasarkan data, di Jabodetabek saja membutuhkan lele sekitar 150 ton per hari. Bisa dibayangkan, berapa banyak produksi lele yang harus disediakan oleh peternak lele. Sementara itu, peternak sendiri banyak mengalami kendala dalam mengembangkan peternakan lele.

Di antaranya ialah masalah harga pakan yang terus meningkat. Sedangkan ketergantungan terhadap pakan pabrikan masih tinggi. Ironisnya lagi, pakan pabrikan dengan harga mahal tidak menjamin keberhasilan budi daya. Misalnya, banyak lele yang sakit dan tingkat kematian yang tinggi. Selain itu, hasil panen juga sering dihargai “rendah” dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan pembudidaya.

Hal inilah yang melatarbelakangi RGB Gunawan menciptakan sistem budi daya lele yang ekonomis, berkualitas, dan sehat, yaitu dengan sistem probiotik organik. Sistem ini menjadikan peternak mandiri dalam penyediaan pakan serta pengondisian air (water quality). Probiotik organik merupakan kumpulan mikroorganisme yang mendukung pertumbuhan dan kesehatan semua makhluk hidup yang dihasilkan dari bahan dasar alami, tanpa melibatkan unsur kimia. Dan, ini sangat besar sekali manfaatnya dalam penerapan budi daya lele.

Sistem probiotik organik memiliki keunggulan dibandingkan sistem konvensional. Pertama, lele mendapatkan asupan pakan alami, berkualitas, dan murah hingga hemat 60%. Kedua, kepadatan kolam lebih tinggi hingga 200 ekor/m³, sedangkan sistem konvensional hanya mencapai 150 ekor/m³. Ketiga, kualitas air tetap baik karena terjaga oleh mikroorganisme yang tumbuh secara berkesinambungan. Keempat, serangan penyakit menurun dan rendahnya kematian bibit hanya 2—3%. Padahal dalam sistem konvensional bisa mencapai 10—20%. Kelima, meningkatkan pertumbuhan lele secara optimal dengan kualitas yang baik dan sehat.

Minggu, 28 Juni 2015

Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui

Penebaran benih lele merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam kegiatan awal pemeliharaan lele di kolam. Tidak sedikit para pelaku budi daya lele yang melakukan kesalahan dalam menebar benih lele, baik cara maupun waktunya.

Waktu yang tepat untuk menebar benih lele adalah pagi hari (pukul 08.00-09.00) atau sore hari (pukul 15.30-16.30). Diperkirakan pada waktu-waktu tersebut suhu air tidak terlalu panas (stabil). Benih yang sudah ditebar tidak langsung diberi pakan. Sebaiknya puasakan benih selama sehari. Setelah itu baru diberi pakan.

Bagi yang baru menekuni budi daya lele, disarankan untuk menebar benih ukuran minimal 9-10 cm. Benih ukuran tersebut kondisinya relatif stabil dibandingkan dengan benih yang ukurannya masih kecil.

Padat tebar adalah jumlah benih yang ditebar per luas atau volume kolam. Berdasarkan pengalaman beberapa pelaku budi daya lele, padat tebar yang diterapkannya 200-400 ekor/m2. Artinya, setiap luas kolam 1 m2 dengan kedalaman 80-100 cm dapat dipelihara 200-400 ekor benih.

Ukuran benih lele ideal yang akan ditebar sebaiknya seragam. Tujuannya agar lele tidak saling menganggu dan pertumbuhannya seragam. Sesuai dengan karakternya, lele adalah binatang kanibal. Jika kekurangan pakan, akan memangsa sesamanya, terutama lele berukuran kecil. Benih lele yang berukuran kecil juga akan kalah bersaing dalam mendapatkan makanan.

Benih yang baru tiba di kolam sebaiknya jangan langsung ditebar, akan tetapi diadaptasikan terlebih dahulu (aklimatisasi) agar benih tidak stress akibat perbedaan suhu antara air dalam wadah pengangkutan dengan air di kolam barunya. Benih yang stress berpeluang besar menjadi lemah, terkena penyakit, bahkan mati.

Tahap aklimatisasi benih, yaitu sebagai berikut:

  • Kantong plastik (wadah pengangkutan) yang berisi benih didiamkan di atas permukaan air kolam sekitar 15-30 menit.
  • Karet kantong plastik di buka setelah kantong plastik didiamkan.
  • Sambil memercikkan air kolam ke dalam kantong ikan, secara perlahan kantong dimiringkan sehingga airnya bercampur dengan air kolam dan ikan pun keluar secara perlahan.


Setelah benih di tebar, sebaiknya diberi pupuk higienis (PH) denga dosis ½ nya atau 1 kg dedak untuk 20 M3 air. PH sangat berperan dalam mengobati luka pada tubuh ikan akibat sentuhan alat saat panen dan penanganan lainnya.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Cara Mudah Pembenihan Lele

Cara pembenihan lele yang diuraikan dalam dalam pembahasan ini ialah cara pembenihan lele secara intensif. Dalam teknik ini, induk yang akan dipijahkan harus dirangsang dengan penyuntikan kelenjar hipofisa dan pembuahan dilakukan dalam wadah atau baskom. Namun, pembenihan sistem intensif ini dilakukan di luar ruangan. Selain itu, kolam tidak dipasangi pompa air atau aerator. Penekanan dalam sistem ini adalah pemberian pakan yang lebih banyak.

Dengan pembenihan sistem intensif, peternak tetap dapat memperkirakan hasil produksi yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Kekurangan dari sistem ini adalah ukuran benih yang dihasilkan. Dengan waktu pemeliharaan yang sama, ukuran benih tetapi lebih kecil dibandingkan dengan pemeliharaan lele sistem superintensif.

Kolam Indukan

Pada dasarnya tidak ada ukuran yang baku untuk kolam tempat indukan. Biasanya hanya disesuaikan dengan luas lokasi yang ada. Namun, untuk memudahkan pengelolaan dan efisiensi bisa digunakan kolam berukuran 15-20 m2 dengan tinggi 1 meter. Kolam seluas ini mampu menampung induk sebanyak 30-35 ekor. Indukan jantan dan betina dipelihara dalam kolam yang terpisah.

Kolam indukan harus memiliki lubang pemasukan dan pengeluaran air. Kedua lubang tersebut harus diberi saringan agar induk-induk lele tidak keluar. Ketinggian air di dalam kolam 60-70 cm dengan debit air mengalir 20-25 liter/menit. Air yang mengalir dalam kolam harus air bersih yang tidak tercemar limbah.

Selama pemeliharaan, induk harus diberikan pakan yang penuh gizi agar diperoleh induk yang memadai dan siap untuk dipijahkan. Jenis pakan yang bisa diberikan adalah pakan buatan berupa pelet dengan kandungan protein minimun 30%. Pakan tersebt diberikan dengan dosis 3-5% dari total bobot induk dalam kolam. Pengukuran berat bisa dengan menimbang 10 sampling lele kemudian dirata-rata beratnya. Pemberian dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, sore dan malam hari.

Pemilihan Induk Siap Pijah

Pada saat akan dilakukan pemijahan, pilih induk yang sudah siap dipijahkan, yakni yang sudah matang gonad dan minimal sudah berumur 12 bulan. Ciri-ciri induk yang sudah matang gonad sama seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Penyuntikan Hipofisa dan HCG

Kelenjar hipofisa bisa diambil dari ikan donor, lele atau ikan mas. Sementara itu, HCG atau Ovaprim sudah banyak dijual di toko alat perikanan dan apotek. Adapun cara penyuntikan Ovaprim adalah sebagai berikut:

  • Siapkan alat suntik dan hormon ovaprim untuk disuntikkan. Gunakan injeksi spuit yang sudah dibersihkan dengan air panas atau gunakan alat injeksi yang baru.
  • Timbang induk ikan lele (jantan dan betina) dan tentukan dosis ovaprim. Induk yang beratnya ± 1 kg, dosis hormon ovaprim 0,3-0,5 ml. Bila beratnya 0,5 kg, maka dosis yang diperlukan setengahnya, yakni 0,15–0, 25 ml (sesuai petunjuk pada wadah hormon tersebut).
  • Sedot dengan alat injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml. Usahakan posisi botol dan injeksi spuit tegak lurus, botol berada di atas. Setelah itu, sedot lagi dengan injeksi spuit yang sama akuades sebanyak 0,5 ml juga untuk mengencerkannya.
Proses Stripping dan Pembuahan

Stripping dilakukan setelah 8 jam dari penyuntikan. Bagian perut induk betina diurut dengan hati-hati hingga telur keluar dari lubang kelaminnya. Tapi sebelum melakukan pengurutan, terlebih dahulu siapkan bak penetasan telur, bersihkan terlebih dahulu bak-bak dengan permangkanat. Telur-telur yang terbuahi terlihat kuning transparan dan akan menetas setelah 34 jam sampai dengan 48 jam dikeluarkan oleh induk. Anak ikan yang keluar dari telur masih sangat kecil dan lemah. Badan transparan dan kalau dilihat dengan mikroskop akan terlihat masih mengandung kuning telur. Telur-telur yang tidak terbuahi berwarna kuning susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele

Juraganbibitlele.blogspot.com, kali ini akan membahas mengenai makanan dan kebiasan ikan lele. Lele adalah pemakan hewan dan pemakan bangkai (carnivorousscavanger). Makanannya berupa binatang-binatang renik, seperti kutu-kutu air (Daphnia, Cladocera, Copepoda), cacing, larva (jentik-jentik serangga), siput kecil, dan sebagainya. Lele juga memakan makanan yang membusuk, seperti bangkai hewan dan kotoran manusia.

Ikan lele biasanya mencari makan di dasar perairan, tetapi bila ada makanan yang terapung maka lele juga dengan cepat menyambarnya. Dalam mencari makan, lele tidak mengalami kesulitan karena mempunyai alat perba (sungut) yang sangat peka terhadap keberadaan makanan, baik di dasar, pertengahan, maupun permukaan perairan.

Lele dikenal sebagai ikan yang rakus dalam hal makan. Meskipun dikenal sebagai ikan pemakan hewan (karnovor), tetapi dapat juga menyantap apa saja yang diperolehnya, termasuk sisa-sisa dapur, seperti nasi dan dedak yang diberikan di kolam.

Jika lele diberikan pakan yang banyak mengandung protein nabati, maka pertumbuhannya lambat. Pertumbuhan lele dapat dipicu dengan pemberian pakan berupa pelet yang mengandung protein minimal 25%, juga diberikan pakan tambahan berupa bangkai ayam, bangkai itik, ikan rucah, daging bekicot, siput air dan sebagainya.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele

Habitat ikan lele adalah semua perairan air tawar, misalnya di sungai yang airnya tidak terlalu deras atau di perairan yang tenang (danau, waduk, rawa-rawa) dan genangan-genangan air lainnya (kolam dan air comberan).

Di sungai, ikan lele ini lebih banyak dijumpai pada tempat-tempat yang alirannya tidak terlalu deras. Pada tempat kelokan aliran sungai yang arusnya lambat, ikan lele seringkali tertangkap. Ikan ini tidak menyukai tempat-tempat yang tertutup rapat oleh tanaman air, tetapi lebih menyukai tempat yang terbuka. Ini mungkin berhubungan dengan sifatnya yang sewaktu-waktu dapat mengambil oksigen langsung dari udara.

Lele mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut arborecent organ, yaitu alat pernapasan tambahan yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah, yang terletak di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga, serta berbentuk mirip dengan pohon atau bunga-bunga. Oleh karena itu, lele dapat mengambil oksigen langsung dari udara dengan cara menyembul ke permukaan air.

Dengan demikian, lele dapat bertahan hidup di perairan yang mengandung sedikit oksigen. Lele juga relati tahan terhadap pencemaran bahan-bahan organik. Oleh karena itu, lele tahan hidup di comberan yang airnya kotor dan tergenang.

Lele hidup dengan baik di dataran rendah sampai pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu 25-30 derajat Celcius. Pada ketinggian di atas 700 Meter dpl, pertumbuhan ikan lele kurang baik. Lele tidak cocok hidup di air payau atau asin, meskipun sering berenang hingga ke bagian air yang agak payau. Lele termasuk hewan malam (nokturnal) dan menyukai tempat-tempat gelap. Aktif bergerak mencari makan pada malam hari dan memilih berdiam diri atau bersembunyi di tempat terlindung pada siang hari. Sesekali. Ikan ini muncul di permukaan untuk menghirup oksigen langsung dari udara.

Sehubungan dengan itu, memancing lele pada malam hari lebih berhasil daripada siang hari, karena lele aktif mencari makan pada waktu malam atau setelah matahari terbenam.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya

Dalam buku Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi (Kottelat, 1993), disebutkan beberapa spesies ikan lele, yaitu Clarias Batrachus, C. Leiacanthus, C. Maladerma, C. Nieuhofi, C. Teijsmani, dan C. Gariepinus. Spesies C.Gariepinus atau dikenal sebagai lele dumbo merupakan ikan introduksi, sedangkan yang lainnya merupakan spesies asli (Indigenous species) di perariran umum Indonesia.

Berdasarkan taksonominya, lele diklasifikasikan ke dalam: Filum: Chordata
Klas: Pisces
Ordo: Siluriformes
Familiki: Clariidae
Genus: Clarias
Spesies: Clarias Batrachus dan lain-lain.
Bentuk badan ikan lele memanjang. Tengah badannya mempunyai potongan membulat, dengan kepada pipih ke bawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuhk pipih ke samping (Compressed). Dengan demikian, pada lele ditemukan tiga bentuk potongan melintang, yaitu pipih ke bawah, bulat dan pipih ke samping.

Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas ingsang. Di sinilah terdapat alat pernapasan tambahan yang tergabung dengan busur ingsang kedua dan keempat.

Mulut terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dihiasi 4 sungut (kumis). Lubang hidung yang depat merupakan tabung pendek berada di belakang bibir atas, sedangkan lubang hidung sebelah belakang merupakan celah yang kurang lebih bundar berada di belakang sungut nasal. Mata berbentuk kecil dengan tepi orbital yang bebas.

Sirip ekor ikan lele membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung dan sirip anal. Sirip perut membulat dan panjangnya mencapai sirip anal. Sirip dada pada lele lokal (C. Batrachus) dilengkapi sepasang duri tajam yang umumnya disebut patil atau tajil.

Patil ini beracun, terutama pada ikan-ikan remaja, sedangkan ikan yang sudah tua agak berkurang kadar racunnya. Selain untuk membela diri dari pengaruh luar yang menganggunya, patil juga digunakan oleh lele lokal untuk melompat keluar dari air dan melarikan diri.

Dengan menggunakan patil, lele lokal dapat “berjalan” di darat cukup lama dan cukup jauh tanpa air. Pada lele dumbo dan lele keli, patilnya pendek, tidak tajam dan tidak beracun, sehingga tidak melukai tangan, tidak membuat lubang dan tidak merusak pematang kolam. Lele dumbo merupakan lele berukuran besar yang dapat tumbuh hingga mencapai lebih dari 15 kg/ekor dan panjang hingga 1 meter. Meskipun lele lokal dapat tumbuh hingga mencapai 62 cm, namun pertumbuhannya sangat lambat.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi

juraganbibitlele.blogspot.com, pada pembahasan kali ini akan membahas mengenai ikan lele budi daya dan ikan lele konsumsi. Dari sekitar enam spesies ikan lele yang ditemukan di perairan umum Indonesia, spesies lele lokal (Claries Batrachus) merupakan ikan lele konsumsi penting yang telah lama dibudidayakan. Budi daya ikan lele lokal dimulai sejak tahun 1975 di daerah Blitar, Jawa Timur dan sekitar tahun 1980 –an mulai dibudidayakan secara berpasang-pasangan di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Saat itu, budi daya lele lokal sudah berkembang sangat pesat, sampai datang lele dumbo (Claries Gariepinus) yang merupakan lele hasil introduksi pada tahun 1985. Sejak saat itu pula, petani mulai beralih dan berbondong-bondong menekuni budi daya lele dumbo yang mempunyai ukuran tubuh lebih besr dan pertumbuhan yang pesat dibandingkan lele lokal.

Sekitar tahun 1987, mulai diperkenalkan lele keli (Clarias Meladerma) yang merupakan salah satu spesies unggul baru. Lele keli mencapai ukuran besar hingg 1 kg/ekor. Lele keli juga mudah beradaptasi pada berbagai perairan tawar dan tahan terhadap serangan penyakit, khususnya bakteri Aeromonas yang sering menyerang ikan lele. Kecepatan pertumbuhannya lebih cepat dari lele lokal, meskipun masih di bawah lele dumbo.

Dalam perkembangan selanjutnya, para pelaku budi daya lele menganggap budi daya lele dumbo lebih menguntungkan dan ekonomis. Untuk mencapai ukuran 500 g/ekor, pemeliharaan lele dumbo membutuhkan waktu 3-4 bulan, lele keli membutuhkan waktu 5-6 bulan, sedangkan lele lokal membutuhkan waktu 1 tahun. Oleh karena itu, spesies lele dumbo yang paling banyak dibudidayakan.

Untuk menghasilkan lele konsumsi bagi kebutuhan rumah makan dan warung pecel lele, diperlukan ikan lele dengan ukuran 8-12 ekor/kg. untuk menghasilkan lele dumbo dengan ukuran tersebut, hanya memerlukan waktu pemeliharaan 2,5 sampai dengan 3 bulan.

Dalam perkembangannya, lele dumbo pun mengalami penurunan keunggulan yang dilihat dari laju pertumbuhan yang menurun dan tingginya kematian benih. Menurut Rustidja (1999), pada awal lele dumbo berkembang di Indonesia (tahun 1985), benuh ukuran 305 cm yang menjadi ukuran konsumsi dengan bobot ukuran 125-150 g/ekor dapat dicapai dalam waktu 70 hari. Saat ini, dengan pola budi daya yang sama, waktu pemeliharaannya menjadi 100 hari. Penurunan pertumbuhan populasi ikan dapat disebabkan oleh menurunya kualitas genetik.

Rendahnya kualitas genetik akan berakibat negatif terhadap sifat-sifat penting dalam budi daya ikan, antara lain menurunya tingkat sintasan dan pertumbuhan (Leary, 1985). Fenomena tersebut dicirikan juga dengan meningkatnya individu yang asimetri dan abnormal. Hal tersebut tampak pada berbedaan bentuk, ukuran, jumlah, dan ciri-ciri morfologi yang lain pada organ tubuh berpasangan antara organ bagian kiri dan kanan (Wilkins, 1995).

Penelitian Nurhidayat (2003) menemukan bahwa lele dumbo di tiga daerah setara budi daya di Pulau Jawa, yaitu Sleman, Tulung Agung, dan Bogor, mempunyai nilai fluktuatif simetris dan abnormalitas yang tinggi. Hal tersebut terkait dengan perkembangbiakan alami yang tidak terkontrol (uncontrolled reproduction), yang mengakibatkan energi pertumbuhan menjadi tidak efesien dan menghasilkan ikan yang kurang bernilai dalam sistem reproduksi.

Selain itu, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan benih, banyak orang melakukan penangkaran. Benih dari hasil penangkaran tersebut akan dibesarkan, kemudian dikawinkan. Selanjutnya, benih berikutnya dibesarkan dan dikawinkan lagi oleh penangkar lain. Begitu seterusnya, tanpa ada pengawasan secara biologis dan genetik.

Akibat kesalahan kolektif tersebut, mutu genetik semakin menurun dan berdampak pada pertumbuhan. Pasalnya, penangkar mengawinkan induk lele yang masih berkerabat sangat dekat, bisa disebut “silang dalam” atau “kawin kerabat” (Inbreeding). Akhirnya, usaha budi daya lele dumbo menjadi tidak ekonomis karena menggunakan benih-bening dari induk yang tidak berkualitas.

Saat ini para ahli dan praktisi mulai mengupayakan perbaikan mutu genetik lele dumbo yang terlanjur menurun. Dua lele yang sudah dihasilkan adalah lele sangkuriang dan lele phiton. Lele sangkuriang adalah hasil perbaikan genetik lele yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Tawa (BBPBAT) Sukabumi dengan melakukan silang-balik (Backcross) terhadap induk lele dumbo yang ada di Indonesia.

Lele phiton dihasilkan oleh Kelompok Sinar Kehidupan Abadai (SKA), kelompok budi daya lele Bayumundu, Padeglang, Banten. Lele phiton merupakan lele hasil silang antara lele dumbo asal Thailand dan lele dumbo lokal.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015

Juraganbibitlele.blogspot.com kali ini akan mencoba membahas mengenai perkembangan bisnis lele tahun 2015. Mengingat konsumsi ikan lele beberapa tahun terakhir terus meningkat. Jika dulu lele dipandangan sebagai ikan murahan dan hanya dikonsumsi oleh keluarga petani, sekarang konsumen ikan lele semakin meluar. Rasa daging yang khas, serta cara memasak dan menghidangkannya yang secara tradisional, menu ikan lele menjadi kegemaran masyarakat luas. Bahkan, banyak restoran besar yang menghidangkannya. Oleh karena itu, harga ikan lele kian meningkat. Hal itu tentu saja menjadi perangsang bagi petani untuk membudidayakan ikan lele secara intensif.

Hal lain yang membuat ikan lele banyak dikonsumsi masyarakat adalah berkembangnya warung-warung tenda, khususnya di daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dan Yogyakarta. Kondisi ini membuat masyarakat dengan mudah mendapatkanya.

Dilihat dari segi perkembangan bisnis ikan lele, budi daya lele awalnya hanyalah sebagai kegiatan sambilan. Ikan lele dipelihara di kolam pekarangan yang menampung air limbah rumah tangga karena sifatnya yang tahan hiduo di dalam lingkungan yang kotor dan kekurangan oksigen. Namun, dalam kolam pekarangan itu, ikan lele diberikan makanan sisa-sisa dapr saja sehingga pertumbuhannya lambat. Bahkan, sesudah dipelihara satu atau dua tahun, berat ikan lele baru mencapai 100 gram, sebagai ikan konsumsi.

Seiring dengan semakin tingginya ikan lele, membuat peluang bisnis budi daya ikan lele semakin terbuka. Apalagi, budi daya ikan lele, baik pembenihan maupun pembesaran, dapay dijalankan tidak hanya dengan modal besar, tetapi dengan jumlah modal terbatas pun dapat dilakkan. Kini, budi daya lele umumnya dikelola secara intensif.

Budi daya ikan lele pun sebagai rantai awal dalam bisnis lele, memiliki peluang yang cukup besar untuk mendukung pemerintah dalam program membuka lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan masyarakat.

Semakin mencuatnya bisnis lele membuat banyak petani mengembangkan skala usahanya. Bahkan, kalangan yang tadinya belum mengusahakan pun ikut terjun dalam bisnis ikan lele. Namun, antusias yang tinggi untuk membuka usaha ikan lele sering kali tidak disertai dengan suatu strategi budi daya dan pemasaran yang baik. Pada akhirnya, tidak sedikit dari kalangan pelaku budi daya lele yang mengalami kerugian.

Perkembangan budi daya dan bisnis ikan lele sebenarnya juga tidak lepas dari dukungan riset yang dilakukan oleh lembaga terkait. Balai Riset Perikanan Budidaya di Air Tawar (BRPBAT) di bogor, misalnya, sejak tahun 1978 telah melakukan riset tentang ikan lele, meliputi riset tentang aspek budi daya untuk induk, benih, pakan, lingkungan, dan penyakit. Maka dari itu, sejak tahun 1995, ikan lele sudah dianggap sebagai komuditas budi daya umum sehingga riset yang dilakukan sudah terbatas.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Prospek Bisnis Ikan Lele

Juraganbibitlele.blogspot.com, dalam pembahasan kali ini akan membahas mengenai prospek bisnis ikan lele. Dimana ikan Lele (Claris Sp) sangat popular di kalangan masyarakat. Pasalnya, ketika orang menyebut lele, yang teringat adalah “Pecep Lele.” Makanan khas Jawa Timur dengan lauk andalan lele goreng tersebut sangat terkenal seantero Nusantara. Awalnya, penjual soto lamongan (Jawa Timur) yang mulai mengembangkan usahanya di Jakarta pada tahun 1950-an mulai menyajikan pecel lele sebagai satu menu. Kini bisnis pecel lele merebak di seluruh tanah air.

Pecel lele pun tidak lagi identik dengan warung tenda atau pedagang kaki lima, tetapi telah masuk ke rumah makan dan restoran mewah, bahkan sampai melewati teritori Indonesia. Kini binisnis pecel lele sudah merambah Malaysia, Singapura dan Australia.

Di Australia, pecel lele terhidang di Restoran Es Teller 77 Indonesian Champion milik Sukyanto Nugroho yang terletak di Swanson Street, pusat kota Melbourne. Konsumennya pun bervariasi, hampir tiga perempatnya adalah orang bule. Juru masaknya pun bukan orang Lamongan atau Tegal, melainkan Mang Koko, seorang pria kelahiran Burma.

Konsumen pecel lele dan ikan lele tidak lagi melulu masyarakat kelas bawah. Lele “naik kelas” menjadi makanan bagi semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, lele telah merambah semua lapisan masyarakat dan di pasaran, mulai dari pasar tradisional sampai pasar modern, seperti swalayan dan super market.

Lele: ikan berkumis keluarga ikan Catfish ini merupakan salah satu komuditas perikanan yang penting, khususnya budi daya air tawar (freshwater aquaculture). Lele merupakan salah satu ikan air tawar yang paling banyak di budi dayakan dan menduduki urutan ketiga, setelah ikan mas (Cyprinus Carpio) dan ikan nila (Oreochromis Nilotica). Pada tahun 2008, produksi lele nasional sebesar 162.000 ton dan tahun 2009 telah mencapai kurang lebih 250.00 ton.

Lele merupakan salah satu komuditas budi daya air tawar yang memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

  1. Dapat diperlihara di berbagai wadah dan lingkungan perairan. Lele dapat diperlihara di kolam air mengalir, bak, kolam terpal, kolam tadah hujan, di sawah (mina-padi), di bawah kandang ayam (mina-ayam), keramba, hampang, dan keramba jaring apung (KJA).
  2. Dapat dipelihara di ari tergenang dan minim air. Lele merupakan ikan yang memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut arborescent organ. Dengan alat tersebut, lele mampu hidup pada perairan yang minim oksigen, bahkan lele mampu merangkak di luar air sehingga dikenal sebagai walking catfish. Kelebihan tersebut memberikan berbagai keuntungan, misalnya tidak memerlukan penggantian air yang ketat sehingga dapat dibudi dayakan di daerah perkotaan atau di daerah yang sulit air. Kepadatan di dalam wadah pemeliharaan juga sangat tinggi.
  3. Dapat menerima berbagai pakan. Lele dikenal sebagai ikan pemakan segala yang rakus (piscivor) sehingga dalam budi dayanya dapat diberikan pakan buatan berupa pelet dan pakan tambahan, seperti ikan-ikan rucah, limbah peternakan, bekicot, dan sebagainya. Kelebihan ini memberikan keuntungan, terutama dalam menekan biaya produksi, khususnya biaya pakan.
  4. Tahan penyakit. Lele memang dikenal sebagai ikan yang tahan penyakit. Sekalipun diperlihara di perairan tergenang yang biasanya menjadi sumber penyakit, namun lele cukup tahan.
  5. Teknologi budi daya lele dikuasai oleh masyarakat. Teknologi budi daya lele, mulai dari pembenihan, pembesaran, sampai pengadaan pakan telah dikuasai oleh masyarakat.
  6. Dari sisi distribsi dan pemasaran, senantiasa dalam kondisi hidup. Karena kemampuannya hidup di perairan yang minim oksigen maka distribusi lele hingga rantai akhir pemasaran senantiasa dalam kondisi hidup. Oleh karena itu, lele tersaji dalam kualitas prima di meja konsumen.


Keunggulan lele merupakan berkah bagi petani, pengusaha, dan konsumen. Usaha budi daya lele tersebut berkembang, termasuk lahirnya inovasi-inovasi baru untuk menghasilkan ikan yang lebih berkualitas dan mengubah citra lele, bukdan lagi sebagai budi daya ikan “kelas comberan.”


Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik