Sabtu, 16 Januari 2016

Jenis-Jenis Kolam Budidaya Belut

Dalam budidaya belut, ada beberapa kolam yang harus disediakan, yaitu kolam penampungan induk, kolam pemijahan, kolam pendedaran dan kolam pembesaran. Dari beberapa kolam tersebut, ukurannya tidak harus seragam atau sama. Artinya, masing-masing kolam bisa berbeda ukuran sesuai dengan kebutuhan. Berukut ini ukuran masing-masing kolam yang disarankan dalam budidaya Belut, yaitu:




  • Kolam penampungan induk. Ukurannya 200 centimeter X 200 centimeter dengan kedalaman 100 centimeter.
  • Kolam pemisahan dan pendederan. Ukurannya 200 centimeter X 200 centimeter dengan kedalaman 100 centimeter.
  • Kolam pembesaran. Ukurannya 500 centimeter X 500 centimeter dengan kedalaman 120 centimeter.

Selain ketiga jenis kolam tersebut, dalam budidaya Belut diperlukan juga kolam penampungan dan kolam karantina. Kolam penampungan adalah kolam yang berfungsi untuk menampung belut setelah dipanen. Kolam penampungan ini juga bisa digunakan sebagai kolam karantina sebelum Bibit Belut ditebar ke dalam kolam.

Karantina Bibit Belut ini sangat penting, terutama untuk mencegah atau menghindari bibit penyakit dan juga untuk mengurangi tingkat kematian Bibit Belut setelah ditebar di kolam pemeliharaan. Karantina Bibit Belut ini juga bertujuan untuk memilah bibit belut siap tebar. Idealnya bibit belut yang ditebar harus Belut yang benar-benar sehat dan lincah. 

Proses karantina Bibit Belut juga tidak membutuhkan waktu lama. Karantina cukup dilakukan selama sehari semalam dengan menggunakan air bersih yang mengalir. Selama masa karantina, belut tetap harus diberi pakan. Ini agar belut yang lincah tidak menjadi lemes dan yang lemas tidak menjadi mati.

Cara Memilih Lokasi Ternak Belut

Dalam bisnis terutama ternak Belut, pemilihan lokasi adalah salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan ternak Belut. Lantas, bagaimana cara memilih lokasi ternak Belut? Perlu Anda ketahui, lokasi atau lahan ternak Belut harus berisi air bersih dan kaya akan oksigen. 

Kebutuhan air bersih dan kaya oksigen ini sangat penting terutama untuk bibit atau benih yang baru berukuran 1-2 centimeter. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya, belut dewasa dapat hidup di air yang keruh. Adapun lokasi ideal ternak belut adalah sebagai berikut:

  • Secara klimatologis belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Belut bisa hidup di dataran yang rendah maupun tinggi. Bisa pula hidup di tempat dengan curah hujan tinggi atau rendah. Belut juga tidak terpengaruh akan kelembaban. 
  • Kualitas air untuk pemeliharaan belut tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun dan minyak/limbah pabrik. 
  • Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
  • Bibit belut yang masih berukuran 1-2 cm memerlukan kondisi air yang baik, bening dan kaya akan oksigen. Sedangkan belut yang sudah  dewasa tidak terlalu memilih jenis air.


Prospek Ternak Belut

Belut merupakan ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Sejak beberapa tahun terakhir ini, harga belut baik di pasar lokal maupun ekspor relatif stabil, bahkan terus mengalami kenaikan. Saat ini, harga belut untuk pasar lokal berkisar antara Rp. 35.000 sampai dengan Rp.45.000 per-kilogram. Bahkan dibeberapa daerah, harganya bisa mencapai Rp.80.000 per-kilogram. Sedangkan untuk pasar ekspor, harga belut bisa mencapai 12–15 Dollar atau setara dengan Rp. 150.000–Rp.200.000 per-kilogram, jika kurs rupiah berada pada nilai Rp. 13.000.

Melihat harga Belut di atas, maka belut memiliki prospek besar untuk meningkatkan perekonomian kita, jika kita mau dan bisa membudidayakannya. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, kebanyakan orang hanya mengandalkan pasokan belut dari alam, sehingga produksinya tidak begitu masif dan berkelanjutan. Padahal, baik di pasar lokal maupun ekspor, kebutuhan akan belut dari tahun ke tahun terus meningkat. Maka dari itu, budidaya belut baik sekala kecil maupun besar memiliki prospek dan harapan yang sangat baik. 

Pada tahun 2014-2015 lalu, permintaan belut segar dan hidup di sejumlah negara-negara Asia, membutuhkan 60 ton belut per-hari. Sedangkan pemasok hanya bisa memenuhi sebanyak 5 ton saja. Untuk negara-negara di Eropa, permintaan belut asap (smoked eel) sebanyak 2-4 ton per-hari. Ini semua belum termasuk permintaan belut untuk konsumen lokal yang ada di kota besar seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Malang.

Karena itulah, mengingat pasar yang begitu prospek dan cerah, maka budidaya belut sangatlah menjanjikan untuk kita geluti. Selain itu, modal yang dibutuhkan untuk budidaya belut juga relatif ringan.

Dalam pembudidayaan belut skala besar misalnya kita cukup tebar 40 kilogram bibit belut. Hal itu sudah bisa memenuhi permintaan pasar. Sebab, ukuran yang diminta para eksportir untuk belut konsumsi rata-rata sekitar 400g/ekor.

Untuk mendapatkan hasil demikian, pelaku budidaya belut bisa memberi belut dengan pakan berprotein tinggi, seperti cacing tanah, potongan ikan laut, dan keong mas. Cukup menunggu 4-5 bulan setelah menebar bibit, Anda sudah berkesempatan mengunduh hasil panen sebesar 400 kilogram belut.

Cara Ternak Belut


ternak belut, pakan belut, cara ternak belut, cara budidaya belut, cara beternak belut, budidaya belut tanpa lumpur, budidaya belut dalam drum, budidaya belut air bersih, beternak belut
Belut merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Bentuk ikan belut sendiri ialah bertubuh bulat memanjang, memiliki sirip punggung, serta licin bila dipegang. Habitat asli Ikan Belut ialah daerah sungai, sawah dan rawa-rawa berlumpur. Ikan Belut termasuk suku Synbranchidae. Suku Synbranchidae terdiri dari empat generasi dengan total 20 jenis dan ditemukan hampir disemua daerah yang beriklim tropis. 

Belut berbeda dengan sidat. Meskipun bentuknya hampir sama, tetapi Ikan Belut tidak memiliki sirip, kecuali di bagian ekor yang terlihat samar-samar. Sedangkan Sidat memiliki sirip yang jelas. Ciri-ciri umum dari Ikan Belut ialah tubuhnya tidak bersisik, tidak memiliki kantung renang dan tidak memiliki tulang rusuk. Belut lebih banyak atau hidup di air tawar dan berlumpur. Sedangkan sidat hidup di air payau atau disekitar muara pantai. 

Ukuran tubuh belut bervariasi. Monopterus Indicus hanya berukuran 8,5 centimeter, sementara belut Marmer Synbranchus Marmoratus bisa mencapai 1,5 meter. Sedangkan Belut yang sering kita jumpai, yaitu belut sawah, sungai atau rawa, panjangnya bisa mencapai sekitar 1 Meter. 

Umumnya belut tidak suka berenang, ia lebih senang bersembunyi di dalam lumpur. Adapun makanan kesukaan belut itu sendiri ialah hewan-hewan kecil, misalnya ikan, katak, dan serangga. 

Jumat, 04 Desember 2015

Cara Menyeleksi Indukan Lele



Untuk memperoleh induk atau calon induk lele yang baik, maka perlu dilakukan seleksi. Tahap ini dilakukan mulai sejak fase telur. Benih-benih ikan yang berasal dari telur berukuran besar mempunyai kecepatan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan benih-benih berasal dari telur berukuran kecil.

Selain itu, cadangan makanan larva yang berasal dari telur ukuran besar lebih banyak daripada telur ukuran kecil. Seleksi dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  • Memilih benih-benih calon induk yang mempunyai bentuk luar baik.
  • Mempunyai keunggulan fisik baik, seperti pertumbuhannya lebih cepat dibanding dengan benih lainnya.
  • Tubuh tidak cacat dan mempunyai sifat-sifat unggul dari induknya.
  • Benih yang telah terpilih selanjutnya dipelihara secara khusus dan terpisah untuk kemudian dijadikan calon induk.

Setelah kita menyeleksi indukan yang bakal kita pijah, maka selanjutnya kita harus tahu bagaimana cara merawat indukan. Berikut ini beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk merawat indukan lele Anda.

  • Dalam proses, atau selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pelet). 
  • Ikan lele membutuhkan pelet dengan kadar protein yang relatif tinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk lele, karena kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan. 
  • Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat total ikan.
  • Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan induk jantan dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa dipindahkan apabila anak-anak lele sudah berumur 2 minggu.
  • Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk segera diobati.
  • Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran tidak perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.
  • Adapun kepadatan induk yaitu 5 ekor/m2 atau 100 ekor induk dalam kolam berukuran 20 m2. Untuk memperoleh induk unggul dapat dilakukan dengan cara seleksi, atau melalui kawin silang balik berdasarkan standar yang telah ditentukan.

Untuk memperoleh induk yang berkualitas baik, pakan yang diberikan pada induk lele harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya. Pakan yang baik akan menentukan kecepatan pematangan gonad. Dalam hal ini manajemen pemberian pakan sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan induk lele.

Pakan yang diberikan berupa pelet dengan kadar protein minimal 30% yang menunjukkan bahwa pakan tersebut baik untuk diberikan ke induk. Karena protein akan digunakan untuk perkembangan telur, maka dengan kandungan protein yang tinggi dapat menyebabkan perkembangan telur berlangsung lebih cepat dan kualitas telur yang dihasilkan lebih baik. Pemberian pakan dilakukan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore.

Sabtu, 28 November 2015

Tips Memanen Lele Sangkuriang

Pemanenan biasanya dianggap hal mudah, namun jika tidak dilakukan dengan benar dapat merugikan Anda sendiri karena kulit ikan dapat rusak dan bau amis masih menempel di tubuh ikan sehingga harga jual menjadi rendah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, baiknya Anda pelajari dengan benar bagaimana cara pemanenan seperti berikut ini.
  • Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
  • Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
  • Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
  • Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
  • Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
  • Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.

Analisis Usaha Budidaya Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal

Dalam dunia usaha, diperlukan observasi dan analisis usaha. Observasi dan analisis usaha dilakukan untuk mengetahui banyaknya biaya produksi yang akan kita perlukan. Dari jumlah biaya produksi tersebut, maka nantinya dapat kita takar dengan baik seberapa banyak keuntungan yang dapat kita peroleh dari usaha tersebut. Hal tersebut juga dapat menjadi pijakan bagi kita agar kerugian dalam sebuah usaha dapat diminimalisir bahkan ditiadakan.

Analisis usaha budidaya lele kolam terpal ini dibuat berdasarkan pengkajian mendalam dari beberapa kasus yang dialami oleh para pengusaha budidaya lele yang menggunakan kolam terpal. Analisis usaha ini akan dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah analisis usaha budidaya lele yang berskala kecil dan analisis usaha budidaya lele berskala sedang. Analisis usaha budidaya lele yang berskala kecil dan sedang ini dapat kita jadikan acuan untuk membuat analisis usaha budidaya lele dalam skala besar.

Analisis Usaha Budidaya Lele Skala Kecil
Biaya Investasi
Lahan (menggunakan pekarangan rumah sendiri)
Rp. 0,-
2 buah terpal ukuran 2 x 3            @Rp. 150.000,-
Rp. 300.000,-  
4 buah bambu ukuran 6 meter      @Rp. 15. 000,-
Rp.   60.000,-
Paku 1 kg
Rp.     8.000,-
Tukang (dapat dikerjakan sendiri)
Rp. 0,-
Jumlah
Rp. 368.000,-

Biaya Produksi
Bibit/ benih 1000 ekor                   @Rp.      300,-
Rp. 300.000,-
Pakan bulan pertama 5kg               @Rp. 10.000,-
Rp.   50.000,-
Pakan selanjutnya 1Bal                @Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Biaya obat/lain-lain
Rp.   50.000,-
Jumlah
Rp. 580.000,-

Jumlah modal awal 
Rp. 948.000,-
Diperkirakan panen 1 kolam 150 kg
Harga lele bulan Januari 2011

150 X 9.000         
Rp. 9.000/kg (harga bisa berubah sewaktu-waktu)
Rp. 1.350.000
Pemasukan/ panen       
Rp. 1.350.000
Keuntungan/ panen  
Rp. 1.350.000 - Rp. 948.000,-
= Rp. 402.000,-

Berdasarkan analisis di atas, pada panen pertama kita hanya memiliki keuntungan sebesar Rp.402.000,-. Keuntungan tersebut dapat dikatakan sedikit karena modal awal sebesar Rp. 948.000,-. Namun perlu diingat, bahwa keuntungan sebesar Rp. 402.000 itu hanya keuntungan awal.

Kalau kita melanjutkan usaha budidaya lele ini, maka usaha kita selanjutnya tersebut tidak terbebani biaya investasi sebesar Rp. 368.000,-. Artinya, biaya yang harus kita tanggung hanya biaya produksi sebesar Rp. 580.000,-. Jadi, total keuntungan pada panen kedua adalah Rp. 402.000,- + Rp. 368.000,- = Rp. 770.000,-. Dengan demikian, pada usaha kedua kita hanya butuh modal Rp. 580.000,- untuk biaya produksi dan mendapatkan keuntungan lebih dari 100% dari jumlah modal.

Jenis-Jenis Kolam Budidaya Belut

Dalam budidaya belut , ada beberapa kolam yang harus disediakan, yaitu kolam penampungan induk, kolam pemijahan, kolam pendedaran dan ko...