Tampilkan postingan dengan label Bisnis Lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis Lele. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2015

10 Manfaat Budi Daya Lele Organik yang Wajib Diketahui


Perlu Anda ketahui bahwa tidak hanya sayuran dan buah saja yang bisa dikonsumsi secara organik. Ikan lele pun bisa dikonsumsi secara organik. Ikan lele organik diperoleh dengan menggunakan teknik budi daya yang ramah lingkungan dan dengan memanfaatkan mikroorganisme positif pada kolam budi daya dan siklus yang serupa dengan habitat asli ikan lele. Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari budi daya lele organik ini. Berikut adalah 10 manfaat budi daya lele organik yang wajib Anda ketahui. 

Hemat pakan
Dapat menghemat pakan sebanyak 50—70% dari awal tebar hingga masa panen.

Hemat biaya pemeliharaan
Dapat menekan dan menghemat biaya pemeliharaan sampai dengan 50%, terutama dalam biaya pembelian pakan pelet.

Menekan persentase kematian
Pada kolam lele organik terdapat banyak phytoplankton dengan komponen aktif mikroalga yang mempunyai aktivitas antimikroba dan antioksidan. Karena itu, berbagai kelebihan phytoplankton yang ada pada kolam lele mampu menekan berkembangnya penyakit yang tidak diinginkan.

Tidak banyak memerlukan penggantian air
Kehadiran phytoplankton di kolam lele organik, dapat mengubah unsur anorganik menjadi bahan organik dalam proses fotosintesis sehingga dapat meminimalisasi penggantian air kolam.

Bebas bahan kimia
Lebih menyehatkan dan ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan anorganik.

Bebas bau
Keberadaan bakteri pengurai bahan organik dalam probiotik mampu menekan pertumbuhan bakteri patogen dan meningkatkan kualitas air pada kolam.

Mudah dipraktikkan
Karena prinsipnya penerapan sistem budi daya lele organik dilakukan dengan mengandalkan mikroorganisme alami sehingga Agromate cukup memantau prosesnya saja.

Limbahnya dapat dimanfaatkan
Air bekas budi daya lele organik sangat baik untuk memupuk tanaman, baik untuk pembibitan tanaman hortikultura maupun tanaman keras.

Membantu peternak mendapat penghasilan tambahan
Lele organik membutuhkan kotoran sapi, kambing, atau ayam. Artinya, peternak sapi, kambing, atau ayam yang terdapat di sekitar tempat budi daya lele organik bisa memperoleh penghasilan tambahan.

Rasa daging lele menjadi lebih gurih
Karena mengonsumsi pakan alami, tekstur daging lele jauh lebih bagus dan rasanya pun lebih gurih.

Minggu, 28 Juni 2015

Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Dalam budi daya lele, pakan yang diberikan harus sesuai dengan skala usaha pada kolam. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 3-4% berat biomas/hari. Bila susah menghitung jumlah pakan yang diberikan, pemberian pakan ikan lele juga bisa dilakukan secara ad libitum, yaitu pemberiannya dilakukan secara bertahap dalam jumlah banyak dan baru dihentikan setelah 25% dari ikan yang ada telah meninggalkan tempat pemberian pakan. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar ikan sudah mulai kenyang.

Patokan pemberian pakan lele bisa didasarkan pada konversi pakan. Misalnya, konversi pakan pada pembesaran lele sangkuriang adalah 0,8-1. Artinya, setiap 0,8-1 kg pakan yang dihabiskan akan menambah bobot ikan sebanyak 1 kg. Jadi jika jumlah tebar lele sebanyak 10.000 ekor dengan target produksi ikan konsumsi ukuran 9-10 ekor/kg maka pakan yang harus disediakan sekitar 1.000 kg.

Setiap pergantian jenis atau ukuran pakan yang berbeda sebaiknya dilakukan secara bertahap. Caranya adalah pakan lama dengan pakan pengganti dicampur. Tujuannya adalah agar ikan dapat beradaptasi dengan jenis atau ukuran pakan yang berbeda. Ukuran pakan ditetapkan dengan mempertimbangkan ukuran bukaan mulut ikan. Semakin besar ukuran tubuh ikan dan bukaan mulutnya, semakin besar pula ukuran pakannya.

Jumlah Pemberian Pakan Dalam Kegiatan Pembesaran Setiap Periode Berdasarkan Sekala Usaha
Skala Usaha (Kg) Jumlah Pakan Tambahan (Kg) Skala Usaha (Kg) Jumlah Pakan Tambahan (Kg)
100 100 2000 2000
200 200 5000 5000
500 500 10000 10000
1000 100 20000 20000

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele

Juraganbibitlele.blogspot.com, kali ini akan membahas mengenai makanan dan kebiasan ikan lele. Lele adalah pemakan hewan dan pemakan bangkai (carnivorousscavanger). Makanannya berupa binatang-binatang renik, seperti kutu-kutu air (Daphnia, Cladocera, Copepoda), cacing, larva (jentik-jentik serangga), siput kecil, dan sebagainya. Lele juga memakan makanan yang membusuk, seperti bangkai hewan dan kotoran manusia.

Ikan lele biasanya mencari makan di dasar perairan, tetapi bila ada makanan yang terapung maka lele juga dengan cepat menyambarnya. Dalam mencari makan, lele tidak mengalami kesulitan karena mempunyai alat perba (sungut) yang sangat peka terhadap keberadaan makanan, baik di dasar, pertengahan, maupun permukaan perairan.

Lele dikenal sebagai ikan yang rakus dalam hal makan. Meskipun dikenal sebagai ikan pemakan hewan (karnovor), tetapi dapat juga menyantap apa saja yang diperolehnya, termasuk sisa-sisa dapur, seperti nasi dan dedak yang diberikan di kolam.

Jika lele diberikan pakan yang banyak mengandung protein nabati, maka pertumbuhannya lambat. Pertumbuhan lele dapat dipicu dengan pemberian pakan berupa pelet yang mengandung protein minimal 25%, juga diberikan pakan tambahan berupa bangkai ayam, bangkai itik, ikan rucah, daging bekicot, siput air dan sebagainya.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele

Habitat ikan lele adalah semua perairan air tawar, misalnya di sungai yang airnya tidak terlalu deras atau di perairan yang tenang (danau, waduk, rawa-rawa) dan genangan-genangan air lainnya (kolam dan air comberan).

Di sungai, ikan lele ini lebih banyak dijumpai pada tempat-tempat yang alirannya tidak terlalu deras. Pada tempat kelokan aliran sungai yang arusnya lambat, ikan lele seringkali tertangkap. Ikan ini tidak menyukai tempat-tempat yang tertutup rapat oleh tanaman air, tetapi lebih menyukai tempat yang terbuka. Ini mungkin berhubungan dengan sifatnya yang sewaktu-waktu dapat mengambil oksigen langsung dari udara.

Lele mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut arborecent organ, yaitu alat pernapasan tambahan yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah, yang terletak di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga, serta berbentuk mirip dengan pohon atau bunga-bunga. Oleh karena itu, lele dapat mengambil oksigen langsung dari udara dengan cara menyembul ke permukaan air.

Dengan demikian, lele dapat bertahan hidup di perairan yang mengandung sedikit oksigen. Lele juga relati tahan terhadap pencemaran bahan-bahan organik. Oleh karena itu, lele tahan hidup di comberan yang airnya kotor dan tergenang.

Lele hidup dengan baik di dataran rendah sampai pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu 25-30 derajat Celcius. Pada ketinggian di atas 700 Meter dpl, pertumbuhan ikan lele kurang baik. Lele tidak cocok hidup di air payau atau asin, meskipun sering berenang hingga ke bagian air yang agak payau. Lele termasuk hewan malam (nokturnal) dan menyukai tempat-tempat gelap. Aktif bergerak mencari makan pada malam hari dan memilih berdiam diri atau bersembunyi di tempat terlindung pada siang hari. Sesekali. Ikan ini muncul di permukaan untuk menghirup oksigen langsung dari udara.

Sehubungan dengan itu, memancing lele pada malam hari lebih berhasil daripada siang hari, karena lele aktif mencari makan pada waktu malam atau setelah matahari terbenam.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya

Dalam buku Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi (Kottelat, 1993), disebutkan beberapa spesies ikan lele, yaitu Clarias Batrachus, C. Leiacanthus, C. Maladerma, C. Nieuhofi, C. Teijsmani, dan C. Gariepinus. Spesies C.Gariepinus atau dikenal sebagai lele dumbo merupakan ikan introduksi, sedangkan yang lainnya merupakan spesies asli (Indigenous species) di perariran umum Indonesia.

Berdasarkan taksonominya, lele diklasifikasikan ke dalam: Filum: Chordata
Klas: Pisces
Ordo: Siluriformes
Familiki: Clariidae
Genus: Clarias
Spesies: Clarias Batrachus dan lain-lain.
Bentuk badan ikan lele memanjang. Tengah badannya mempunyai potongan membulat, dengan kepada pipih ke bawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuhk pipih ke samping (Compressed). Dengan demikian, pada lele ditemukan tiga bentuk potongan melintang, yaitu pipih ke bawah, bulat dan pipih ke samping.

Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas ingsang. Di sinilah terdapat alat pernapasan tambahan yang tergabung dengan busur ingsang kedua dan keempat.

Mulut terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dihiasi 4 sungut (kumis). Lubang hidung yang depat merupakan tabung pendek berada di belakang bibir atas, sedangkan lubang hidung sebelah belakang merupakan celah yang kurang lebih bundar berada di belakang sungut nasal. Mata berbentuk kecil dengan tepi orbital yang bebas.

Sirip ekor ikan lele membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung dan sirip anal. Sirip perut membulat dan panjangnya mencapai sirip anal. Sirip dada pada lele lokal (C. Batrachus) dilengkapi sepasang duri tajam yang umumnya disebut patil atau tajil.

Patil ini beracun, terutama pada ikan-ikan remaja, sedangkan ikan yang sudah tua agak berkurang kadar racunnya. Selain untuk membela diri dari pengaruh luar yang menganggunya, patil juga digunakan oleh lele lokal untuk melompat keluar dari air dan melarikan diri.

Dengan menggunakan patil, lele lokal dapat “berjalan” di darat cukup lama dan cukup jauh tanpa air. Pada lele dumbo dan lele keli, patilnya pendek, tidak tajam dan tidak beracun, sehingga tidak melukai tangan, tidak membuat lubang dan tidak merusak pematang kolam. Lele dumbo merupakan lele berukuran besar yang dapat tumbuh hingga mencapai lebih dari 15 kg/ekor dan panjang hingga 1 meter. Meskipun lele lokal dapat tumbuh hingga mencapai 62 cm, namun pertumbuhannya sangat lambat.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi

juraganbibitlele.blogspot.com, pada pembahasan kali ini akan membahas mengenai ikan lele budi daya dan ikan lele konsumsi. Dari sekitar enam spesies ikan lele yang ditemukan di perairan umum Indonesia, spesies lele lokal (Claries Batrachus) merupakan ikan lele konsumsi penting yang telah lama dibudidayakan. Budi daya ikan lele lokal dimulai sejak tahun 1975 di daerah Blitar, Jawa Timur dan sekitar tahun 1980 –an mulai dibudidayakan secara berpasang-pasangan di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Saat itu, budi daya lele lokal sudah berkembang sangat pesat, sampai datang lele dumbo (Claries Gariepinus) yang merupakan lele hasil introduksi pada tahun 1985. Sejak saat itu pula, petani mulai beralih dan berbondong-bondong menekuni budi daya lele dumbo yang mempunyai ukuran tubuh lebih besr dan pertumbuhan yang pesat dibandingkan lele lokal.

Sekitar tahun 1987, mulai diperkenalkan lele keli (Clarias Meladerma) yang merupakan salah satu spesies unggul baru. Lele keli mencapai ukuran besar hingg 1 kg/ekor. Lele keli juga mudah beradaptasi pada berbagai perairan tawar dan tahan terhadap serangan penyakit, khususnya bakteri Aeromonas yang sering menyerang ikan lele. Kecepatan pertumbuhannya lebih cepat dari lele lokal, meskipun masih di bawah lele dumbo.

Dalam perkembangan selanjutnya, para pelaku budi daya lele menganggap budi daya lele dumbo lebih menguntungkan dan ekonomis. Untuk mencapai ukuran 500 g/ekor, pemeliharaan lele dumbo membutuhkan waktu 3-4 bulan, lele keli membutuhkan waktu 5-6 bulan, sedangkan lele lokal membutuhkan waktu 1 tahun. Oleh karena itu, spesies lele dumbo yang paling banyak dibudidayakan.

Untuk menghasilkan lele konsumsi bagi kebutuhan rumah makan dan warung pecel lele, diperlukan ikan lele dengan ukuran 8-12 ekor/kg. untuk menghasilkan lele dumbo dengan ukuran tersebut, hanya memerlukan waktu pemeliharaan 2,5 sampai dengan 3 bulan.

Dalam perkembangannya, lele dumbo pun mengalami penurunan keunggulan yang dilihat dari laju pertumbuhan yang menurun dan tingginya kematian benih. Menurut Rustidja (1999), pada awal lele dumbo berkembang di Indonesia (tahun 1985), benuh ukuran 305 cm yang menjadi ukuran konsumsi dengan bobot ukuran 125-150 g/ekor dapat dicapai dalam waktu 70 hari. Saat ini, dengan pola budi daya yang sama, waktu pemeliharaannya menjadi 100 hari. Penurunan pertumbuhan populasi ikan dapat disebabkan oleh menurunya kualitas genetik.

Rendahnya kualitas genetik akan berakibat negatif terhadap sifat-sifat penting dalam budi daya ikan, antara lain menurunya tingkat sintasan dan pertumbuhan (Leary, 1985). Fenomena tersebut dicirikan juga dengan meningkatnya individu yang asimetri dan abnormal. Hal tersebut tampak pada berbedaan bentuk, ukuran, jumlah, dan ciri-ciri morfologi yang lain pada organ tubuh berpasangan antara organ bagian kiri dan kanan (Wilkins, 1995).

Penelitian Nurhidayat (2003) menemukan bahwa lele dumbo di tiga daerah setara budi daya di Pulau Jawa, yaitu Sleman, Tulung Agung, dan Bogor, mempunyai nilai fluktuatif simetris dan abnormalitas yang tinggi. Hal tersebut terkait dengan perkembangbiakan alami yang tidak terkontrol (uncontrolled reproduction), yang mengakibatkan energi pertumbuhan menjadi tidak efesien dan menghasilkan ikan yang kurang bernilai dalam sistem reproduksi.

Selain itu, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan benih, banyak orang melakukan penangkaran. Benih dari hasil penangkaran tersebut akan dibesarkan, kemudian dikawinkan. Selanjutnya, benih berikutnya dibesarkan dan dikawinkan lagi oleh penangkar lain. Begitu seterusnya, tanpa ada pengawasan secara biologis dan genetik.

Akibat kesalahan kolektif tersebut, mutu genetik semakin menurun dan berdampak pada pertumbuhan. Pasalnya, penangkar mengawinkan induk lele yang masih berkerabat sangat dekat, bisa disebut “silang dalam” atau “kawin kerabat” (Inbreeding). Akhirnya, usaha budi daya lele dumbo menjadi tidak ekonomis karena menggunakan benih-bening dari induk yang tidak berkualitas.

Saat ini para ahli dan praktisi mulai mengupayakan perbaikan mutu genetik lele dumbo yang terlanjur menurun. Dua lele yang sudah dihasilkan adalah lele sangkuriang dan lele phiton. Lele sangkuriang adalah hasil perbaikan genetik lele yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Tawa (BBPBAT) Sukabumi dengan melakukan silang-balik (Backcross) terhadap induk lele dumbo yang ada di Indonesia.

Lele phiton dihasilkan oleh Kelompok Sinar Kehidupan Abadai (SKA), kelompok budi daya lele Bayumundu, Padeglang, Banten. Lele phiton merupakan lele hasil silang antara lele dumbo asal Thailand dan lele dumbo lokal.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik

Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015

Juraganbibitlele.blogspot.com kali ini akan mencoba membahas mengenai perkembangan bisnis lele tahun 2015. Mengingat konsumsi ikan lele beberapa tahun terakhir terus meningkat. Jika dulu lele dipandangan sebagai ikan murahan dan hanya dikonsumsi oleh keluarga petani, sekarang konsumen ikan lele semakin meluar. Rasa daging yang khas, serta cara memasak dan menghidangkannya yang secara tradisional, menu ikan lele menjadi kegemaran masyarakat luas. Bahkan, banyak restoran besar yang menghidangkannya. Oleh karena itu, harga ikan lele kian meningkat. Hal itu tentu saja menjadi perangsang bagi petani untuk membudidayakan ikan lele secara intensif.

Hal lain yang membuat ikan lele banyak dikonsumsi masyarakat adalah berkembangnya warung-warung tenda, khususnya di daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dan Yogyakarta. Kondisi ini membuat masyarakat dengan mudah mendapatkanya.

Dilihat dari segi perkembangan bisnis ikan lele, budi daya lele awalnya hanyalah sebagai kegiatan sambilan. Ikan lele dipelihara di kolam pekarangan yang menampung air limbah rumah tangga karena sifatnya yang tahan hiduo di dalam lingkungan yang kotor dan kekurangan oksigen. Namun, dalam kolam pekarangan itu, ikan lele diberikan makanan sisa-sisa dapr saja sehingga pertumbuhannya lambat. Bahkan, sesudah dipelihara satu atau dua tahun, berat ikan lele baru mencapai 100 gram, sebagai ikan konsumsi.

Seiring dengan semakin tingginya ikan lele, membuat peluang bisnis budi daya ikan lele semakin terbuka. Apalagi, budi daya ikan lele, baik pembenihan maupun pembesaran, dapay dijalankan tidak hanya dengan modal besar, tetapi dengan jumlah modal terbatas pun dapat dilakkan. Kini, budi daya lele umumnya dikelola secara intensif.

Budi daya ikan lele pun sebagai rantai awal dalam bisnis lele, memiliki peluang yang cukup besar untuk mendukung pemerintah dalam program membuka lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan masyarakat.

Semakin mencuatnya bisnis lele membuat banyak petani mengembangkan skala usahanya. Bahkan, kalangan yang tadinya belum mengusahakan pun ikut terjun dalam bisnis ikan lele. Namun, antusias yang tinggi untuk membuka usaha ikan lele sering kali tidak disertai dengan suatu strategi budi daya dan pemasaran yang baik. Pada akhirnya, tidak sedikit dari kalangan pelaku budi daya lele yang mengalami kerugian.

Perkembangan budi daya dan bisnis ikan lele sebenarnya juga tidak lepas dari dukungan riset yang dilakukan oleh lembaga terkait. Balai Riset Perikanan Budidaya di Air Tawar (BRPBAT) di bogor, misalnya, sejak tahun 1978 telah melakukan riset tentang ikan lele, meliputi riset tentang aspek budi daya untuk induk, benih, pakan, lingkungan, dan penyakit. Maka dari itu, sejak tahun 1995, ikan lele sudah dianggap sebagai komuditas budi daya umum sehingga riset yang dilakukan sudah terbatas.

Artikel Terkait


  1. Prospek Bisnis Ikan Lele
  2. Perkembangan Bisnis Lele Tahun 2015
  3. Mengenal Ikan Lele Budi Daya dan Konsumsi
  4. Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Lele Budi Daya
  5. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Lele
  6. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
  7. Lokasi Usaha Budi Daya Lele yang Baik
  8. Struktur Tanah dan Kualitas Air yang Baik untuk Budi Daya Lele
  9. Tipe atau Jenis Kolam untuk Budi Daya Lele
  10. Cara Menyiapkan Indukan Untuk Budi Daya Lele
  11. Manajemen Indukan Lele
  12. Cara Mengetahui Indukan Lele Siap untuk Dipijahkan
  13. Cara Mudah Pembenihan Lele
  14. Cara Penebaran Benih Lele yang Wajib Diketahui
  15. Makanan dan Cara Pemberian Pakan Lele yang Baik